Tampilkan postingan dengan label krystal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label krystal. Tampilkan semua postingan

CAST: SUHO, KRYSTAL, KAI
song: VIXX - Don’t Want To Be An Idol
DONT BE SILENT READER!

TEASER:  https://www.facebook.com/notes/dewi-oktaviani/teaser-dont-want-to-be-an-idol/556006411102858




Because I’m an idol, because I’m a celebrity 
I can’t hold your hand when we walk



I want to go out and go to the movies 
I want to stick close to you and walk all day 
Things that everyone else does, things that are normal 
Those things are difficult for us 
As much as I love you, music is so important to me too so I can’t help it 
Because of all the cameras, because of my manager 
I kept pushing back our dates 

I’ll do everything for you,
I’ll give you everything




part 1













Gadis itu tersenyum. Tangannya melambai dengan penuh semangat. Ia mengenakan rok yang terlalu pendek, memperlihatkan kaki putihnya yang ramping. Aku mendekat pada makhluk indah itu. Wangi parfumnya tercium sekilas. Parfum yang sangat ku hapal, karena akulah yang membelikan itu untuknya sebagai hadiah anniversary kami.

“Kai! Lihat-lihat wajah kita di layar!” aku berhenti dan mengurungkan niatku. Seorang yang amat aku kenal, Kyungsoo dan Kai berjalan berdua diikuti Baekhyun mendekati Krystal sembari melihat ke screen yang sedang menyorot wajah mereka . Sedangkan Krystal, tampak tak tertarik dengan screen. Gadis itu kini sedang berdiri disamping Victoria. Seiring dengan hiruk pikuk penonton yang berteriak memenuhi stadion, aku menepi, menutupi gerak-gerikku yang bisa saja tertangkap kamera.

Aku melangkah, mendekati Jessica sunbei yang berdiri tersenyum. Dia menyadari kehadiranku, dan menepuk pipiku hangat. Aku membungkuk sekilas. Sepintas aku ingat apa yang pernah Jessica sunbei katakan saat itu.

“Terimakasih kau telah menjaga Krystal kami selama Trinee. Krystal pasti sangat senang memiliki kakak seperti mu”

Aku tersenyum kecil dan kemballi melambai ke arah penonton.

“Jessica sunbei, bagaimana reaksimu jika mengetahui hubungan kami lebih dari itu?” bisikku dalam hati, semantara senyum terus menghiasi wajahku. “Kami telah berhubungan selama lebih dari dua tahun, bagaimana kau bisa tidak menyadarinya sunbei?”

Aku melirik Krystal yang cukup jauh disana. Terlihat ia sedang bercakap-cakap dengan Kai, meminta ijin pemuda itu untuk menggandeng tangannya.

“Hyung, saat nya membungkuk!” teriak Chanyeol. Aku meraih tangan member EXO yang lain dan bersiap untuk membungkuk.

“HA NA DUL SET!” teriak Leeteuk hyung dengan mic hitam di tangan kirinya “KAMSAHAMNIDAA!!”

Dan kami membungkuk, sementara tangan kami saling bertaut, membentuk sebuah barisan yang amat panjang. Namun pikiranku melayang. Jantungku berdegup tidak normal. Krystal tidak ada disampingku. Namun wangi parfumnya melekat dihidungku, benar-benar membuatku ingin berada disamping gadis itu, memeluknya, mengecup bibirnya lembut. Aku menghela nafas. Ragaku seakan berteriak, berharap aku lah yang dapat menggenggam tangan Krystal, bukan Kai.
***

Aku meraih handuk kecil untuk membasuh rambutku yang basah, dan berjalan ke luar dari ruang ganti.
“Hyung? Mau kemana? Kau tidak ganti dulu? Kaosmu basah” aku menoleh dan tersenyum sekilas ke arah Kyungsoo.
“Sebentar saja, disini terlalu gerah” kataku dan segera beranjak dari sana diikuti anggukan dari Kyungsoo dan member lain.

Aku tersenyum, saat tanpa sadar kakiku melangkah mendekati ruang ganti f(x). namun kemudian berhenti beberapa meter karena pintu itu tiba-tiba menjeblak terbuka. Aku berlari disisi tembok, menyembunyikan diriku sebisa mungkin.

“Ah Suho, kau tidak ganti?” aku mendelik kaget. Di depanku tahu-tahu ada Chang Min sunbei yang terlihat telah berganti pakaian dengan tshirt hitam dan jaket kulitnya yang terlihat mahal.

“Ah iya sunbei, aku hanya, barus saja dari ruangan SHINee sunbei” kataku mencari alibi.

“Ah arrasseo, aku duluan ne?” aku mengangguk lalu Changmin sunbei berjalan melewatiku. Sepertinya Chang Min sunbei tidak meihat gelagatku yang aneh. Semoga saja tidak.

“Anyeong girls. Good Job for today” sapa Changmin sunbei kepada member f(X) yang baru saja keluar dari ruangan mereka. Aku mengintip mereka dari balik tembok. Victoria, Luna, Sulli, Amber. Dimana Krystal? Dimana gadis itu?

Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun kemudian mereka bersama pergi melewati lorong menuju parkir basement. Dan sekali lagi sebuah pertanyaan melintas di otakku. Dimana Krystal? Dimana gadis itu?

Aku terdiam sesaat. Melihat keadaan yang tidak ada orang disana. Kemudian mataku tertuju pada pintu itu. Sebuah pintu yang terbuka sejengkal dengan label besar bertuliskan f(X) di permukaannya. Entah iblis apa yang merasukiku, tapi kakiku bergerak  ke arah pintu itu.



Aku memeluknya dari belakang. Gadis itu berjengit benar-benar kaget.

“Oppa?! Apa yang kau lakukan disini?” katanya nampak panik. Namun sama sekali tak kulepas pelukanku padanya. Kusandarkan daguku dipundakknya. Sementara bibirku mengecup telinganya lembut. Wangi parfum yang khas menyeruak diujung hidungku. Memberi dorongan yang luar biasa untuk memeluknya lebih erat.

“Oppa, bagaimana kau bisa masuk? Bagaimana jika ada orang yang melihat kita?” serentetan pertanyaan dengan tergesa ia ucapkan. Sangat lucu, dan benar-benar membuatku gemas.

“Look” kataku dan menunjukkan sebuah kunci yang tergantung dijemariku dihadapan matanya. Kunci kamar ganti ruangannya ada ditanganku, menandakan, tidak akan ada orang lain yang akan menerobos masuk dan melihat kami.

Krystal, gadis itu terdiam. Sementara aku mengecup pipinya lembut. Dia memalingkan wajahnya mencoba untuk melihatku dari posisi dia memunggungiku. Tangan kanannya berusaha menyentuh pipiku.

“Dasar nakal” katanya dan membuatku tersenyum.

“Aku merindukanmu chagi” bisiku, seketika pipinya memerah. Dia memalingkan wajahnya, berusaha menutupi betapa malunya ia. Namun tanganku meraih dagunya, mencegah tatapannya berpaling.

“Aku akan benar-benar membunuh stylishmu jika di memberikanmu rok sependek tadi lagi” kataku sedikit sebal.

Krystal tersenyum. “Aigo, uri guardian sedang cemburu tampaknya” katanya dan mengecup bibirku sekilas. Cepat namun namun penuh cinta. Gadis ini benar-benar membuatku jatuh hati. Apapun yang dilakukannya, selalu membuatku nyaman.

“Aku harus segera pergi, member yang lain pasti menungguku” bisiknya. Aku tersenyum. Memelukya lebih erat, sedikit lebih lama mengecup leher jenjangnya yang putih. Mencium lembut aroma parfumnya yang khas, seperti wangi taman segar dipagi hari ketika musim panas. Begitu mendamaikan, nyaman dan lembut.

“Aku mencintaimu Soo Jung-ngie” bisiku ditelinganya, sebelum akhirnya aku melepas tanganku yang melingkar dipinggangnya. Kemudian gadis itu berbalik, sehingga kini dapat ku lihat wajahnya yang begitu segar sehabis menghapus makeupnya. Kedua tangan gadis itu merengkuh tengkukku. Membelai kepalaku begitu halus. Seiring tanganku meraih pinggangnya lagi, menarik tubuhnya begitu erat.

“Jangan terlalu lelah,” katanya dan memijat kepalaku perlahan “Jangan terlalu memaksakan dirimu, aku tak mau oppa jatuh sakit lagi. Ingat, aku tidak bisa setiap hari disampingmu dan menyuapi mu semangkuk bubur”

Aku menghela nafas. Ketempelkan dahiku didahinya. Mataku terpejam, merasakan nafas gadis itu di wajahku. Wangi cherry dari lipglossnya, pijatan tangannya, suaranya. Aku ingin gadis itu selalu disampingku. Tapi aku juga tidak ingin menghancurkan karir yang baru saja aku bangun dengan susah payah. Tujuh tahun trinee,tujuh tahun penantian agar aku bisa debut. Namun aku juga mencintainya, belahan jiwaku, Krystal Jung.

Aku tersentak dan mendadak menjauhkan wajahku. Aku kaget bukan main dan menyentuh ujung hidungku yang baru saja digigitnya kecil. Gadis ini benar-benar membuatku kaget bukan main.

“Aku pikir kau tertidur” kekehnya dan meraih kunci ruangan ditanganku. “Aku akan keluar duluan” katanya, dia berjalan meraih tasnya di atas meja rias. “Oppa bisa keluar setelah aman. Aku harus keluar duluan agar yang lain tidak curiga” gadis itu tersenyum, mengecup pipiku penuh kasih dan aku tak bisa berkata apa-apa saat sosoknya hilang dibalik pintu.

Aku mendengus lagi. Tanganku terangkat, menyentuh ujung hidungku perlahan, kemudian terseyum penuh arti.

Andaikan, aku dapat leluasa bersamamu, pasti hal itu akan sangat indah sekali.

TBC



WELL *TANGAN GATEL TANGAN GREGET* *REMET-REMET TANGAN* XD
NO SILENT READER ^^


(ONWRITTING) Don't Want To Be An Idol (SUHO-KAI-KRYSTAL)  
Teaser https://www.facebook.com/notes/dewi-oktaviani/teaser-dont-want-to-be-an-idol/556006411102858
PART 1 https://www.facebook.com/notes/dewi-oktaviani/dont-want-to-be-an-idol-1/556480377722128
PART 2 https://www.facebook.com/notes/dewi-oktaviani/dont-want-to-be-an-idol-part-2/557681404268692
part 3  https://www.facebook.com/notes/wonderful-world/dont-want-to-be-an-idol-part-3/413036388802691



MY LOVE IS A GANGSTER?!

Rating:
 17+
WARNING! SEWAKTU WAKTU RATING BISA NAIK

Cast:
Kim Jong Dae /CHEN [EXO]
Jung Krystal [F(x)]




1
Gang yang amat sepi. Malam begitu larut, bahkan sang rembulan sembunyi ketakutan di balik singgasananya.

Suasana semakin menegangkan ketika datanglah dua buah kubu dari arah utara dan selatan. Seorang pemuda jangkung nampak dari ujung gang bagian selatan. Jas hitam dengan dasi warna merah amat pantas untuknya. Ia berjalan penuh percaya diri, diikuti sekelompok orang yang terlihat lebih tua darinya.

Dari kubu sebelah utara. Seorang pemimpinnya terlihat lebih pendek dan lebih pantas disebut om. Ia menggunakan jas abu-abu mengkilap yang terkesan mewah. Sebuah batang rokok menyala tersemat diantara rongga bibirnya.

“Ya, Jong Dae, kau hanya membawa sedikit anggota” kekehnya terhadap pemuda jangkung dihadapannya kini. “Kuharap ini bukan malam terakhirmu huh?!”

Pemuda yang bernama Kim Jong Dae itu menyunggingkan senyum meremehkan.
“Arrasseo Kim Tae Hwan. Seharusnya pak tua sepertimu tak perlu ikut campur-kan?”

“Kau benar-benar!” Laki-laki yang dipanggil Tae Hwan itu maju dengan amarah yang meluap-luap. Ia tergesa berniat mencengkram kerah kemeja Jong Dae. Namun Kim Jong Dae lebih cepat.

Bug!

Kaki JONG Dae yang panjang itu dengan lantang menendang kepala Kim Tae Hwan. Butuh beberapa saat menyadari akan apa yang telah dilakukan JONG Dae. Pesona pemuda itu begitu tangguh.

“Se-rang” ucap JONG Dae dengan lugas namun enteng. Dan pasukan yang telah siap dibelakangnya, menyerang tanpa pikir panjang.
***


Ruangan itu begitu besar, dengan meja-meja bar yang tersedia di pojok-pojok ruang. Lantai dansa  bertambah ramai ketika musik berirama cepat mulai menyapu seluruh ruang. Gemerlap lampu yang mendukung suasana malam menjadi begitu mewah. Wanita-wanita dengan baju mini dan parfum yang menusuk hidung berbaur dengan bau alkohol yang membuat siapa saja terbuai.

Tubuh ramping seorang wanita muda bergerak begitu lincah menikmati lagu yang mendentum-dentum keras ruangan yang besar itu. Mini dress hitam tanpa lengan, menunjukkan jenjang lehernya yang menawan. Rambut panjangnya tergerai indah, sesekali tersibak oleh gerak tubuhnya yang menyesuaikan irama.

“Hey cantik,” seorang namja dengan parfum 41 Men-nya yang menusuk hidung. Wanita berbalut mini dress itu menoleh. Namja tak dikenal itu mendekat dan membelai lembut pipi wanita itu. “Katakan siapa namamu” goda namja itu lagi.

Wanita itu sama sekali tidak terganggu dengan kelakuan si namja yang kurang ajar itu. “Krystal imnida” katanya dan tersenyum.

“Oh, nama yang cantik, seperti orangnya” kekeh namja itu dan melingkarkan tangannya di pinggul Krystal.

“Dan kau?” balas Krystal, tangannya meraba dada si namja dengan nakal.

JONG Dae, kau pasti mengenalku kan? Aku JONG Dae ketua gangster yang terkenal itu” katanya tepat ditelinga Krystal.

“Ah, jinjja? Kau terlihat berbeda dari kedengarannya” kata Krystal, dapat dirasakannya tangan namja itu hampir meremas dadanya. Krystal berjengit kaget dan menahan tangan pemuda itu.

“Kau tidak bisa mendapatkanku dengan mudah tuan JONG Daekata Krystal dengan aksennya yang terdengar berkelas.

“Aku akan melakukan apapun” kata namja itu seakan perkataan Krystal adalah sesuatu hal yang kacangan.

“Jinjja?” Krystal tersenyum penuh arti. “Kau akan melakukan apapun, bahkan jika kau akan berhadapan dengan KIM JONG Dae?”

Namja itu langsung gugup. “A-apa katamu? Kau ingin aku berhadapan dengan diriku sendiri? Hahaa, kau punya selera humor juga cantik.”
Krystal tersenyum licik. “Ah, maaf” katanya “maksudku, berhadapan dengan, KIM JONG Dae yang A-SLI

BUG!

Namja yang mengaku bernama JONG Dae itu terkapar jatuh di lantai. Orang-orang langsung menghindar dan berteriak kaget. Musik tiba-tiba berhenti karena DJ yang sedari tadi menikmati musik, kini hanya dapat menatap takut.

“Apa yang kau lakukan, bajingan?!” Kali ini suara datang dari pemuda jangkung dan beberapa pengikutnya. Mereka terlihat baru saja melakukan kekerasan diluar sana, terlihat dari setitik darah yang tertempel di ujung bibir pemuda itu. Tangannya mengepal dan melayangkan tinjunya di perut namja yang masih terkapar itu.

semua orang disana memasang wajah ngeri, yang nampak tenang hanyalah Krystal. Ia melipat tangannya dan memasang tampang dingin. Pemuda jangkung yang tiba-tiba datang dan melayangkan kepalan-nya itu bukanlah orang asing. Ia kenal jelas, karena ia adalah Kim JONG Dae yang asli.

“Krystal, gwenchana?” tanya JONG Dae yang asli dan menghampiri pujaan hatinya itu.
Krystal beranjak dari hadapan JONG Dae dalam diam. Ia mengambil mini bag-nya yang cukup dekat dari sana dan pergi begitu saja.

“Aish! Dia marah” sebal JONG Dae, ia memandang namja yang terkapar dan mengaduh kesakitan itu. Katanya kemudian pada para bawahannya. “Beri dia pelajaran,” katanya lagi sebelum beranjak dari sana “di luar”

“Baik ketua” ucap mereka dan menyeret namja menyedihkan itu dari sana.





“Krystal!” JONG Dae menahan tangan Krystal sebelum gadis itu benar-benar belok di tikungan jalan.

“Apa?” ucap Krystal datar.

“Kau marah, iyakan kau marah?” tanya JONG Dae dan melepas cengkraman tangannya di lengan Krystal. Gadis itu melipat tangannya lagi, menunjukkan betapa geramnya ia.

 'Apa kau bodoh? Untuk apa kau bertanya jika jelas-jelas mengetahuinya, aish, Pabo JONG Dae ' sebal JONG Dae pada dirinya-sendiri.

“Menurutmu? Apa yang harus aku kesali dari seorang tuan muda, sang ketua gangster yang harus membuatku menunggu selama tiga jam?” kesal Krystal.

“A-aku...” JONG Dae menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku hanya sedang...”

“Berkelahi” JONG Dae menelan ludah mendengar apa yang Krystal tebak. “Ya! JONG Dae!”

Bug!

JONG Dae mengaduh kesakitan sembari mengusap-usap kepalanya. Krystal baru saja memukul kepalanya dengan tas berat yang ada di genggamannya itu. Tas itu cukup kecil, namun ternyata berat seakan berisi sebuah batu bata.

“Lihat lah umurmu sekarang Pabo! Apakah diotakmu hanya ada meninju dan menendang?!”

“Aku hanya__”

Bug!

Lagi, tas itu melayang menimpa kepala JONG Dae tanpa segan.

“Kau bahkan belum menyelesaikan SMA mu! Kau pikir karena kita dijodohkan, maka aku akan menerima laki-laki macam kau menjadi suamiku?!”

“Tapi bukankah kita sudah menikah, hanya tinggal membuat anak dan__”

Bug!

Kali ini Krystal menghempaskan sebuah tinju diperut JONG Dae.

“Auwhh” JONG Dae mengaduh keras. “Kenapa kau memukulku? Apa kau tidak mencintaiku huh?!”

“Tidak!” geram Krystal membuat JONG Dae mendelik kaget. “Kau lupa kita hanya dijodohkan? Bukankah kau hanya memikirkan menikah, menghamiliku, kemudian bersenang-senang semaumu dengan banyak wanita? Dan kau sekarang,” Krystal benar-benar meledak “ KAU PIKIR  AKU AKAN MENCINTAIMU DENGAN SEGALA PIKIRAN BODOH MU ITU??!”

JONG Dae tidak dapat mengatakan apapun kali ini. Ia selalu tidak marah akan perlakuan kasar Krystal padanya. Ia amat menyayangi gadis itu. 

Krystal menyibakkan rambutnya. Nafasnya naik turun setelah segala perkataan yang ia katakan itu____ ternyata membuang penuh energi___.

“Ya Pabo.” ucapnya sebelum benar-benar pergi dari tempat itu “Jika kau memang ingin membuatku mencintaimu lakukanlah selayaknya namja normal. Aku tidak segan untuk memberikan tubuhku untuk namja lain jika sikapmu seperti ini.”

“M-mwo? Ya! Kau tidak boleh! Kau istriku! Yaa!! Krystal!!! Chagiii!!” JONG Dae berteriak apa saja agar membuat gadis itu kembali, namun pemuda itu tak dapat melakukan apapun.

JONG Dae menghela nafas, kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja di trotoar beton itu.

“Aish!” rengeknya sambil mengusap-usap perutnya, bekas pukulan Krystal tadi masih terasa di kulitnya, dan kini menjalar hingga ke hatinya.

***

“Berapa umur bos sekarang?”

“20 tahun, aku kelahiran 1991.”

“Pendidikan terakhir?”

“Ehm, SMA, sbenarnya belum lulus SMA.”

“Wah perbedaan sangat besar. Nona Krystal sekarang telah berumur 17 tahun di kelas 3 SMA. Dan sedangkan tu-an___” suara laki-laki itu tercekat. Seakan tertahan di kerongkongannya ketika melihat wajah JONG Dae yang siap membunuhnya kapan saja.

“Ya, Seong Yeol, kau disini untuk membantuku, bukan untuk menghinaku huh!”

Seong Yeol menelan ludah. “Te-tentu saja Kakak ketua.” dia menunduk sebentar kemudian menatap JONG Dae lagi. “Hanya ada satu cara. Meskipun ini akan sedikit memalukan”

“Hem, katakan”

Seong Yeol berkata ragu “Kakak ketua, harus kembali ke bangku SMA dan lulus tahun ini.”

JONG Dae menatap Seong Yeol, dan tiba-tiba tertawa. Seong Yeol terheran-heran dengan tingkah kakak ketuanya itu.

“Selera humor mu bagus juga” kekeh JONG Dae. “Kau bercandakan?”

Seong Yeol tidak bergerak. Bibirnya terkatup dan matanya menatap kakak ketuanya dengan pandangan 'aku sedang tidak bercanda'. Tawa JONG Dae langsung lenyap.


TBC

CHAPTER 2 https://www.facebook.com/notes/du-bu-dub/my-love-is-gangster-part-2/572653469438152

Tanggal 17 Agustus, Krystal f(x) berbagi dua foto dirinya bersama dengan figure skater Stephane Lambiel di Me2day-nya!


Krystal menulis, “Aku memintanya untuk berfoto denganku jadi dia mengangkatku, mengambil dua foto. dan memutarku:)”



Berpose dengan tanda ‘V’ saat digendong Lambiel, Krystal terlihat berpegangan padanya menunjukkan kedekatan mereka pada kamera. Stephane Lambiel tiba di Korea tanggal 13 Agustus untuk pertunjukan ice skating 3 hari Kim Yuna


Fans kemudian dengan iri berkomentar, “Kamu menawan di ice skating! Terbaik!”, “Ah.. sangat cemburu”, dan “Kamu menakjubkan di panggung, tetapi juga di ice skating!”








Source + Photos: Star News via Nate via allkpop



Indtrans: luphleeylyalya@asianfansclub

PART 2





Tap… Tap.. Tap…


Suara hentakan kaki terdengar dari ujung belokan. Dari jauh terlihat sosok Soh Hyun sedang berlari tergesa-gesa.


“Tidak” gumam Soh Hyun begitu didapati gerbang sekolah sudah tertutup. Ini pertama kalinya dia telat seperti ini.


Soh Hyun berpikir sejenak sambil mengatur nafasnya. Beberapa detik kemudian dia mendongak lalu berlari lagi.


















Tap…






Suara tas dilempar dari luar pagar.






Tap…






Soh Hyun melompat pagar, kakinya mendarat tepat di rumput kering yang bersalju. Ia mengendap-endap menelusuri bukit belakang sekolah, berusaha sebisa mungkin bahwa tidak ada yang tau kalau dia membolos jam pertama. Walaupun, kebanyakan murid-murid sering melakukannya jika telat. Dan mungkin dia satu satunya siswa yang beru pertama kali melakukan hal ini.






“Telat, Soh Hyun-ssi?”






Soh Hyun berhenti melangkah. Dia yang tadinya membungkuk, menegakkan badannya. Dihadapannya berdiri Soo Jung dengan wajah lembutnya.






“Kau?”














Di belakang sekolah ada sebuah bukit kecil. Tepat dibalik pohon-pohon itu. Soo Jung dan Soh Hyun duduk terdiam diatas dua batu besar.






“Kau, tidak seperti biasanya” mulai Soo Jung tanpa menoleh ke Soh Hyun yang ada disampingnya.


“Apa maksudmu?” jawab Soh Hyun ketus.


“Telat”


Soh Hyun benar-benar terlihat siap meledakkan amarahnya. Pertama, ia baru pertama kalinya telat. Dan kedua, Soo Jung membuatnya berdiam disini. Ketiga, otomatis, mau tidak mau dia harus membolos pelajaran di jam pertama.






“Kau bilang aku telat? Lalu kau ini apa?”


“Kalau aku, memang membolos”


Soh Hyun terdiam, mulutnya menganga dan siap merecoki Soo Jung dengan banyak pertanyaan.


“Lalu kenapa kau pakai seragam? Kenapa kesekolah? Kenapa___”


“Kau tau,” Soo Jung menyela semua pertanyaan Soh Hyun dengan sangat lembut. “Apa yang paling menyenangkan di dunia ini?” Soh Hyun memalingkan muka, sama sekali tidak menjawab. “Hal yang paling menyenangkan didunia ini adalah ketika kita melakukan apa yang kita suka bersama orang-orang yang kita sayangi. Itulah kenapa aku ke sekolah. Aku ingin melihat teman-teman.”


“Kau berkata seperti itu karena kau anak beruntung”


“Aku tidak beruntung” gumam Soo Jung. “Tidak seberuntung yang kau kira”


Soh Hyun tertawa.


“Kau anak orang kaya. Mendapat nilai bagus. Mendapat perhatian murid-murid satu kelas, kau pikir itu tidak beruntung? Jangan berpura-pura”






Hening.






Soo Jung, matanya panas. Ia menahan butiran air mata yang siap tak terkendali dapat mengalir begitu saja.


“Dapatkah kau melihatku dari sisi lain? Liatlah sisi asliku yang sebenarnya.” ucap Soo Jung “Aku tidak berpura-pura.”


“Tidak usah sok” kata Soh Hyun tanpa memandang Soo Jung. Tanpa permisi, ia beranjak berdiri bermaksud meninggalkan Soo Jung.


“Soh Hyun, boleh kah aku meminta satu permintaan?” tanya Soo Jung hati-hati. Langkah Soh Hyunpun langsung terhenti, tapi dia sama sekali tidak berbalik.


“Dalam hidupku hanya ada dua pilihan kata, Ya atau Tidak. Dan aku bilang ‘tidak’ untuk permintaanmu itu”


“Seberapa banyak kau mengatakan kata ‘tidak’ dalam hidupmu?”


Soh Hyun tercengang. Selama ini, dia merasa lebih banyak menggunakan kata ‘tidak’. Kenyataan itu membuat jantung Soh Hyun berdetak cepat. “Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya?”


“Sekali saja,” sela Soh Hyun penuh harap. “maukah, maukah kau tersenyum untukku?”


Soh Hyun diam. Sesaat lidahnya terasa kelu.


“Sekali saja, kumohon”


“Ya, bayangkanlah aku tersenyum dalam mimpimu!” seru Soh Hyun dan meninggalkan Soo Jung sendirian.


Soo Jung menatap kepergian Soh Hyun. Ia tersenyum, menutupi rasa kekecewaan dalam dirinya.










***






Sosok jangkung Min Ho, berjalan pelan sambil menenteng tasnya di lorong sekolah. Langkah kakinya berhenti di depan pintu dengan label atas bertuliskan ruang musik. Min Ho membuka pintu itu pelan kemudian melangkah masuk.


Min Ho mengamati seluruh ruangan, lagi-lagi ada Soo Jung di sana. Soo Jung mengenakan seragam dibalik jaketnya yang super tebal dan sibuk membolak-balik bukunya serius. Min Ho tidak memandangnya sedikitpun, bahkan tak ada 'niat' untuk melihatnya.






Akhirnya, Min Ho melangkahkan kakinya ke arah piano putih besar yang sering ia mainkan. Ia melempar tas pelan disampingnya. Lalu dia mencari note-note yang selalu dibawa didalam tas. Tak ada jeda lama, setelah menemukan, kertas note itu ditatanya diatas piano kemudian diamatinya sesaat.






Teng…






Dentingan dan melodi yang lembut mulai dialunkan. Seperti sebuah pemanasan untuknya. Lalu nada-nada itu bersambungan semakin lincah. Tangan-tangannya berbaur, dan menari sesuai irama. Tapi itu belum puncaknya. Tingkat kesulitan semakin menjadi-jadi. Mata Min Ho terus mengamati note satu persatu. Yang jelas, sampai tahap ini, cukup lancar. Hingga akhirnya, tibalah di bagian yang membuat Min Ho frustasi. Bagian yang mungkin hanya bisa di selesaikan oleh penciptanya.






Jreng…






Min Ho menghentikan permainannya tiba-tiba. Ia mengatur nafasnya yang sangat liar tak terkendali.






Bagian itu gagal lagi. Padahal ia sudah benar memainkannya, tetapi terlihat ganjil di telinga. Saat itu juga, Min Ho benar-benar ingin menghancurkan piano didepannya dengan pemukul besball. Shock, marah. Dia sudah bekerja keras, tapi hasilnya tak memuaskan.






Min Ho menatap tangannya. Tangannya gemetar, gemetar tak terkendali, memohon untuk beristirahat.






“28 hari lagi, tapi tidak ada kemajuan” gumamnya sengit.






Tap…






Betapa kagetnya Min Ho begitu tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan membawanya keluar ruangan.






“Apa yang kau lakukan?!” seru Min Ho heran. Setelah ia amati kemudian. Ternyata Soo Jung yang tengah menariknya.






"Ya!" Min Ho berteriak sebal karena Soo Jung memaksanya naik tangga. Dan akhirnya, dengan susah payah, ternyata Soo Jung tengah memaksanya sampai ke atap sekolah.






“Ya! Apa maumu? Apa sih maksudmu? Apa kau gila? Aku kan sedang…”


“Diaam!!” sela Soo Jung. “Yang kau perlukan hanyalah, ikuti cara ku.”


“Ha?”


Soo Jung tersenyum, senyum khasnya, lalu dia mengambil nafas pelan pelan dan memejamkan mata. kemudian dia berteriak dengan seluruh tenaganya.










“FIGHTING!!!!!!!!!!!”


o_O


Min Ho heran. Dia sempat berpikir, Apa anak ini mau mengajariku menjadi orang gila?


“Cepat lakukan” perintah Soo Jung.


“Lakukan apa?”


“Seperti aku tadi bodoh!”


Min Ho garuk-garuk kepala bingung. Bingung, kenapa dia ada ditempat ini. Bingung, kenapa ada perempuan aneh seperti Soo Jung. Bingung, kenapa Soo Jung memaksanya melakukan seperti yang dia mau.


“Fighting.” kata Min Ho singkat, padat dan tidak jelas “Puas?”


“Tidak, bukan seperti itu, tutup matamu dan ambil nafas dalam-dalam” jelas Soo Jung.


“Menyusahkan” gumam Min Ho. Kalau bukan karena Soo Jung seorang perempuan, Min Ho ingin mencekiknya agar dia diam.


“Cepat!” sebal Soo Jung sambil menggetok kepala Min Ho keras. Min Ho langsung mengusap kepalanya, sedikit kesakitan. “Cepat”


Min Ho menatap Soo Jung dengan tatapan aneh, kemudian dilakukannya apa yang Soo Jung suruh.


“Fighting!!!”


“Lebih keras!”


Min Ho benar benar ingin segera menjerat Soo Jung dengan tali agar bisa diam.


“Fighting!!!!”


“Apa kau ini laki-laki? Teriakanmu seperti teriakan anak perempuan umur sepuluh tahun!!”


“FIGHTIIIIIIING!!!!!!!!!!!!!!” teriak Min Ho. Ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Kemudian ditatapnya Soo Jung yang terkekeh-kekeh disampingnya.


“Apanya yang lucu?!” sebal Min Ho.


“Bo-doh” kata Soo Jung disela tawanya.


“Apa? Bodoh?” gumam Min Ho mencerna perkataan Soo Jung. Perlahan, sudut-sudut bibirnya tertarik. Min Ho tersenyum. Lalu iapun ikut tertawa bersama Soo Jung. Menertawai kebodohan mereka.






Min Ho mengambil nafas dalam-dalam. Sesuatu yang sejuk memenuhi dadanya. Rasa sejuk yang lain. Bukan sejuk udara yang ia rasakan, tapi seperti ada perasaan lain pula yang membuat dadanya damai. Entahlah, mungkin karena ada Soo Jung disampingnya?






Soo Jung berhenti tertawa tiba-tiba, ia sedikit berjinjit untuk meraih kepala Min Ho dan mengacak-acak rambutnya senang.


“Akhirnya, aku bisa melihatmu tertawa dan tersenyum, Choi Min Ho”






Min Ho terdiam.






Laki-laki dingin dan keras kepala itu, kini tidak bisa berbohong pada kenyataan. Ini memang pertama kali seumur hidupnya, ia dapat tertawa dan tersenyum lepas selain dengan ibu, Nunanya… dan, Soo Jung juga, wanita pertama yang menyentuhnya tanpa takut.






***






Salju turun perlahan di malam itu. Gang-gang yang sepi menjadi menakutkan. Soh Hyun tidak peduli. Kali ini memang ia tidak terlihat sendirian. Soh Hyun bersama ibunya. Ibunya memang terlihat mabuk. Hal itulah yang membuat Soh Hyun harus merelakan pundaknya kesakitan karena menopang ibunya yang terlihat kurus, tapi nyatanya cukup berat.






“Sudah kubilang, Ibu jangan bekerja disana lagi. Tempat itu terkutuk” ujar Soh Hyun.






“Diamlah, lihat salju mulai lebat. Kau mau kita mati kedinginan diluar hah?” kata Ibunya lemas.






Soh Hyun tidak melanjutkan ocehannya. Ibunya benar, salju turun mulai lebat. Ia hanya tertunduk, merenung, merenungkan kehidupannya.






Soh Hyun memang tidak miskin atupun kaya. Hidupnya sederhana. Tapi, itu dulu. Itu dulu ketika Ayahnya masih hidup. Andai kecelakaan pesawat itu tidak terjadi, mungkin ia masih bisa tertawa bersama orang tuanya. Dan ibunya tidak perlu bekerja menjadi penyanyi klub malam.






Mati-matian Soh Hyun menyembunyikan identitas ibunya. Walaupun hidupnya masih diatas kata miskin. Tapi, gaji dari pendapatan ibunya membuat dia sedikit ogah-ogahan ke sekolah. Dia memilih tidak usah bersekolah dari pada mengijinkan ibunya bekerja di tempat gelap sperti itu. Tapi apa mau dikata, ibunya berotak keras. Mungkin sifat itu juga yang menurun pada darah dagingnya.






“Soh Hyun-ahh”






Soh Hyun mendongak. Ia terpaku melihat sosok yang berdiri menunggunya di depan rumah berlindung sebuah payung.






“Soo Jung?” ucap Soh Hyun akhirnya.


“Boleh kita bicara sebentar?”


















“Ibumu baik baik saja?” tanya Soo Jung pada Soh Hyun disebelahnya.


“Hmm, dia sudah tertidur dikamarnya” angguk Soh Hyun pelan. “Kau benar-benar tak mau masuk?”


“Tidak, disini saja”


“Oh” gumam Soh Hyun aneh.


Soh Hyun menatap wajah pucat Soo Jung. Pikirannya berkutik dengan ribuan pertanyaan yang mondar-mandir dibenaknya.


Takut. Perasaan itu yang muncul pertama kali. Takut, semua teman2nya akan tahu, apa pekerjaan ibunya sebenarnya.






“Kau senang kan?”.






Soo Jung terdiam, raut mukanya menunjukkan tidak paham dengan ucapan Soh Hyun.


“Kau senang melihat diriku yang seperti ini kan?” lanjut Soh Hyun ketus. “Kau hanya ingin mempermalukan aku kan?”


“Kau malu?” kata Soo Jung benar-benar tidak paham “Malu dengan dirimu yang seperti ini?”


Mata Soh Hyun terasa panas. Hatinya bergejolak.


“Memang kenapa?!” teriak Soh Hyun tidak tertahankan. “Kau mau tertawa?! Ha?! Jadi itu tujuanmu kesini?! Kau__”


“Hentikan tingkahmu itu Soh Hyun” sela Soo Jung. “Apa yang harus kupermalukan dari dirimu? Untuk apa aku membuatmu malu?”


Soh Hyun memejamkan mata, berusaha mengatur nafas.


“Pulanglah, ini sudah terlalu malam” kata Soh Hyun datar, lalu beranjak berdiri.






“Soh Hyun-ahh” cegah Soo Jung “Sebenarnya tujuanku kesini karena ini”


Soh Hyun membalikkan badan, dilihatnya Soo Jung menjulurkan sebuah kotak kecil berbungkus kertas kado warna biru cerah.


“Apa itu?” tanya Soh Hyun heran.


“Untukmu” jawab Soo Jung membuat tubuh Soh Hyun kaku.


Soo Jung tersenyum, lalu ditariknya tangan So Hyun. “Ini” katanya sambil menaruh kado kecil itu ke tangan Soh Hyun.


“Kau__”


“Aku pamit pulang. Daa, sampai jumpa besok!” seru Soo Jung ceria.






Soo Hyun menatap kosong ke kado kecil yang ada digenggamannya. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu perasaan yang menyelimuti hatinya. Sebuah kehangatan. Kehangatan yang ia rindukan sejak lama. Dan, Ia telah mendapatkan perasaan itu dari sosok yang telah lama dibencinya karena hal ke-irian. Apakah ini masuk diakal? Ataukah ini tipuan?






“SOH HYUUN-ah!!” Soh Hyun tersentak kaget ketika Soo Jung meneriakkan namanya dari jauh. “HAAAPPPY BIRTHHDAY!!!” teriak Soo Jung dan bergaya ‘fighting’ dengan payungnya.






Tanpa sadar, Soh Hyun tersenyum. Dipandangnya kado itu sekilas. Ketika ia ingin meneriakan kata ‘terimakasih’ untuk Soo Jung, didapatinya gang itu sudah sepi. Soh Hyun menghela nafas pelan, dan memutuskan masuk ke dalam rumah.






Begitu Soh Hyun masuk ke kamar, di nyalakannya lampu belajarnya. Ia terdiam sebentar, terlihat mengamati kado kecil pemberian Soo Jung. Didetik berikutnya, dibukanya kado itu perlahan.






“Beruang?” gumam Soh Hyun begitu dilihatnya bahwa isi kado tersebut adalah sebuah beruang coklat kecil berbaju perempuan. Sepucuk kertas di dalam kotak, menarik perhatiannya.






Tekan perut beruangnya ^^






Soh Hyun melakukan apa yang tertulis di kertas itu.






“Hai Soh Hyun” sebuah suara keluar dari boneka kecil itu.






“Soo Jung?” kaget Soh Hyun begitu menyadari milik siapa suara itu.






“Selamat ulang tahun! Mungkin ini terlalu sederhana, tapi ku harap kau menyukainya”


“Happy Birthday Soh Hyun!!” kata suara lain.






Mata Soh Hyun berair.






“Makin pintar yah! Ha ha ” suaranya berganti lagi.


“Happy Birthday to you, happy birthday to you…”


“Soh Hyun fighting!”


“Ku doakan umurmu panjang! Ok?!”


“Aku yakin kau pasti akan bertambah tinggi ^^ ke..ke…”






Kini air mata Soh Hyun mengalir deras. Ia kenal suara-suara itu. Suara teman-temannya sekelas.






Tapi ulang tahunku masih besok, kau terlalu cepat.


Awalnya Soh Hyun berpikir demikian, tapi ketika ia menengok kearah jam belajarnya. Ia terkesima. Suatu hal yang benar-benar tidak mampu ia ekspresikan.






Jam itu menunjukkan pukul dua belas lewat 10 menit. Itu berarti, sekarang memang ulang tahunnya, tepatnya dimulai dari 10 menit yang lalu.


“Bagaimana bisa kau melakukannya, Soo Jung?” pikir Soh Hyun benar-benar tidak percaya.






***






Soh Hyun menelusuri lorong sekolahnya. Berbeda dengan pagi-pagi yang biasanya. Pagi ini, senyumnya merekah. Langkah kakinyapun terlihat lebih mantap. Mungkin karena peristiwa tadi malam. Yang jelas, sesuatu telah berubah dangan hatinya.






Soh Hyun menekan ganggang pintu kelasnya, dan begitu dia buka…






“HAPPY BIRTHDAY!”






Soh Hyun terpaku melihat teman-temannya tersenyum kepadanya. Ini pertama kali, ada yang mengingat tanggal ulang tahunnya_selain Ibunya, ayahnya dan… Soo Jung.






“Soh Hyun” ujar Yoo Jin sambil membawa kue kecil dengan lilin diatasnya. “Sekarang, tiuplah”






Soh Hyun menatap teman-temannya. Ia memejamkan mata dan membuat permintaan.






“Semoga, kami semua bisa bahagia” segera ditiupnya lilin dan tertawa bersama semuanya. Ia merasakan sebuah perasaan yang tak bisa terlukiskan oleh kata-kata.






“Hal yang paling menyenangkan didunia ini adalah ketika kita melakukan apa yang kita suka bersama orang-orang yang kita sayangi.”






“Kau benar Soo Jung, aku memang salah menilaimu” gumam Soh Hyun penuh makna. Ini adalah kebahagiaan pertama yang dia rasakan setelah ayahnya meninggal. Memori yang akan selalu ia rekam dalam otaknya baik-baik.


Soh Hyun memperhatikan seluruh kelas. Sadar, ia sadar akan sesuatu yang kurang. Kehadiran yang lain. Sosok lain.






“Daa, sampai jumpa besok!”






“Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi?” pikir Soh Hyun. “Dimana Soo Jung?” tanyanya.


“Entah, terakhir kali dia menelpon kami tadi malam tentang ultahmu. Mungkin tidak masuk” ujar Yoo Jin.


Mata Soh Hyun terbelalak.


“Jadi dia yang merencanaan ini semua?” tanyanya lagi. Yang lain mengangguk heran melihat wajah Soh Hyun.


“Soo Jung-ssi” kata Soh Hyun dalam hati “Siapa kau ini sebenarnya? Kenapa kau mampu membuat hidupku menjadi hangat seperti ini?”






BERSAMBUNG










aka aka aka aka






Gimana? XD. Maaf nih Ki Bum belom muncul..


Dan akan muncul di chap selanjutnya


he


dan adegan dgn Min Honya dikit...


Gw pgnnya biar isi cerita ini berbobot dikit..


ga hanya msalah cinta


;)














TEASER CHAP SELANJUTNYA






Min Ho berjalan lebih cepat, bahkan setengah berlari.






“Choi Min Ho, kali ini kau beruntung” gumam Bu Kim keras, terlihat kalau dia memang sengaja. “Kalau dia tidak mengundurkan diri, aku mungkin tidak mencalonkanmu”






“Mungkinkah?” gumam Min Ho dan membuka pintu ruang musik didepannya.


------------------------------------------






“Ki Bum Oppa! Lihat siapa yang datang!” Min Ho menoleh, semua pikirannya buyar.


Laki-laki yang sedang membersihkan meja nomor 6 memutar kepalanya 90 derajat.


“Kau, selamat datang ” kata Ki Bum terlihat bahagia dan dengan santainya langsung memeluk Soo Jung dihadapan Min Ho persis.


Min Ho menunduk perutnya sedikit mual melihat kedekatan Ki Bum dengan Soo Jung. Hingga sesaat Ia merasa kenal dengan laki-laki yang Ji Young panggil 'Ki Bum oppa' ini. Wajahnya seperti___. Min Ho menatap Ki Bum lagi. Bukankah ia sosok yang ada di pigura foto tadi? Apakah laki-laki ini, kekasih Soo Jung?


-------------------------------------------










HAPPY ENDING







Cast :


SHINee – Choi Min Ho


F(x) – Krystal a.k.a Jung Soo Jung


SNSD – Jessica a.k.a Jung Soo Yeon (Krystal’s sister)


F(x) – Choi Sulli a.k.a Kim Yoo Jin


4MINUTE – Kwon Soh Hyun


SHINee – Key a.k.a Kim Ki Bum


KARA – Kang Ji Young a.k.a Kim Ji Young (Key’s sister)


F(x) – Victoria Song a.k.a Choi Hye Jin (Min Ho’s older sister)


Cameo: RHS!!!











TEASER


“Karena kau! Ini semua karena kau lahir!”





Suara itu menggema lagi di kepalanya.






“Kau pembunuh”






Soo Jung menutup telinganya, berusaha tidak mendengar suara-suara itu lagi tapi tidak bisa. Ia tetap mengingatnya dengan jelas. Kepingan-kepingan kejadian yang membuat batinnya sesak.






“Kelahiranmu tidak pernah diharapkan!”






Soo Jung tidak kuat lagi, ia mulai menitikkan air mata. Walau ia berusaha menghapusnya, tapi air matanya justru mengalir lebih deras.






“Anak pembawa sial!”






“Tidak” kata Soo Jung pada dirinya sendiri. “Aku harus bisa menerimanya. Tidak ada gunanya aku menangis, itu tidak akan merubah semuanya”






“Istriku meninggal karena melahirkan kau!”






DEG…






“Akkhhh” Soo Jung berteriak tiba-tiba sambil meremat kepalanya.


“Aaaaaaaaaaaakkkkkkkkhhhhh!!!” teriaknya lagi terlihat begitu tersiksa.


***


Sebuah suara remang-remang mengagetkan Ki Bum. Dia mengamati sekeliling dan berjalan mendekati asal suara.


“Asalnya dari pojok sana” gumam Ki Bum sambil berpikir “Tapi kalau tidak salah, bibi tadi bilang kamar Soo Jung paling pojok. Bukankah itu kamar Soo Jung?”


Ki Bum mendekat pelan-pelan.


“Kenapa kau tidak mengerti juga?!”


“Soo Jung?” gumam Ki Bum merasa ragu pada pendengarannya. Ia pun memutuskan mendekat lebih cepat.


“Kau membuatku menyukaimu! Harusnya itu tidak boleh! Tidak bisa- kita___”


Akhirnya Ki Bum sampai didepan pintu putih itu. Pintu itu setengah terbuka, ia hanya perlu mendorongnya sedikit untuk mengetahui apa yang terjadi. Didorongnya pintu itu pelan






BRUUKKK






Ki Bum terbelalak kaget ketika dia melihat Soo Jung mendorong Min Ho hingga tubuh lelaki itu terhempas ke lemari.


“Apa yang kau lakukan?!!” teriak Soo Jung shock.


Min Ho mendekat dan meremat kedua pundak Soo Jung kasar.


“Kau bilang ingin membenciku kan? Setelah ini, kau boleh membenciku”


“Tapi ak___”


Perkataan Soo Jung terputus lagi. Min Ho tengah melumat bibir Soo Jung lembut. Tapi Soo Jung tidak membalasnya.






Ki Bum seketika itu juga ingin berteriak, ingin masuk ke ruangan itu dan melerai mereka. Ia ingin, tapi tak bisa. Tenggorokannya tercekat, lidahnya kelu dan kakinya seolah membatu.

 
jaketnya sama ^^

 gelangnya mirip ^^

 same pose!

 same pose and dance

 KING AND QUEEN

 mirip dhe kalungnya

 SAME BEAR!!!!


 CELANA POLKADOT


CORAK TOPI HAMPIR SAMA









LOVE MINSTAL!!! HAHAHAHAHA